Ngomong Soal Keberanian, di Sini Tempatnya (Sadel Salak 1 -2) “Menginjakan Kaki di seluruh Puncakan gunung Salak”
“Sepertinya disini tempat para mahasiswa dari jogja kehilangan jalan. Longsoran besar yang memutuskan sadel antara bukit 1900 dengan puncak gunung salak 1. saya dan Riza berdiskusi sambil mengenang ketika kami bergabung dalam operasi SAR satu tahun lalu di tempat yang sama. Kala itu 6 orang mahasiswa dari Jogjakarta berusaha menyebrangi sadel Salak 2 – salak 1. Namun longsoran besar di sadel menggagalkan misi mereka”
Sempat tertunda selama 2 hari tidak membuat kami semua gentar akan semangat untuk menginjakan kaki diseluruh puncakan gunung salak. Tidak hanya puncakan – puncakan gunung salak yang kami injak. Jurang ciapus yang terkenal dengan dalam dan terjalnya kami kelilingi dengan terengah – engah.
Rencana menyebrangai sadel antara puncak salak 1 dan salak 2 sebenarnya sudah terdapat dibenak pikiran sejak 2 tahun lalu. Namun berbagai macam kesibukan dan kendala membuat rencana tersebut selalu terkubur di otak. Dengan tekad dan rasa penasaran tersebut, 3 orang anggota Lawalata pada tanggal 8 – 10 oktober 2011 berangkat dengan tujuan mencari jalan di sadel tersebut yang pada tahun 1980an sempat ada.
Hari Ke-1, Menuju pos 6 Jalur Pendakian Gunung Salak 2
Tiba di Curug Nangka, kami semua menatap gunung salak 2 yang saat itu tengah menunjukan kegagahannya. Beruntung cuaca pada malam itu sangat cerah. Gemerlap lampu yang menghiasi kota bogorpun terlihat sangat indah. Angin yang berhembus pelan menambah kesejukan malam hari di kaki gunung Salak. Kebetulan malam itu adalah malam minggu. Tiga pemuda yang sangat berbeda, disaat orang-orang seusia kami bersenang-senang dengan malam liburnya, kami bertiga pergi menjajal keberanian untuk menginjakan kaki di setiap puncakan gunung Salak. Mencari jalur pendakian yang sempat hilang.
Tepat pukul 21.00 kami mulai mendaki. Untuk menuju puncak Salak 2 sebenarnya tidaklah mudah. Banyak percabangan yang dapat menyesatkan para pendaki. Salah mengambil punggungan dapat membuat kita menuju puncakan disebelah Salak 2, yaitu bukit 1920. Bukan hanya percabangan, tanjakan-tanjakan terjal ditambah mimimnya sumber air memerlukan managemen yang baik untuk menuju kesana. Namun kali ini untuk menuju Salak 2 bukanlah tantangan sebenarnya. Walaupun terbilang gunung yang berat untuk didaki, semangat untuk menyebrangi sadel salak 1-2 membuat sulitnya medan untuk menuju puncak salak 2 tidak terlalu berarti.
Berjalan selama 1 jam dari portal curug nangka kamipun beristirahat sejenak di pos 1. Di pos ini kami memasak nasi dan menikmati sedapnya kopi flores yang kami bawa. Kami memasak nasi di tempat ini bukan berarti di pos ini tempatny untuk makan malam. Hal tersebut kami lakukan untuk menghemat persediaan air, karena air hanya terdapat di pos 2. Pos 1 kami pilih karena tempatnya yang cukup luas dan nyaman untuk beristirahat. Selagi menunggu masaknya nasi kamipun bersenda gurau sambil menikmati kopi hangat. Menyaksikan tegaknya hutan pohon afrika yang mendominasi tempat ini.
Nasi yang kami buat sudah masak. Kamipun melanjutkan pendakian menuju pos 2. Di pos tersebut kami mengisi air melalui pipa yang bocor. Hanya di tempat inilah sumber air bersih yang dapat kita temui selama pendakian. Bukan hanya saat mendaki, bahkan sampai kembali turun ke desa tujuan, yaitu desa tapos. Secara logika, sembilan liter air yang kami bawa tidak akan cukup untuk kami bertiga selama 3 hari. Namun ini semua sudah kami antisipasi, untuk meringankan beban kamipun berencana memanfaatkan air-air yang terdapat di cerukan bebatuan selama pendakian nanti.
Melakukan pendakian dimalam hari merupakan cara yang kami lakukan untuk menjaga mental melihat terjalnya jalur pendakian. Memang jika dilakukan pada siang hari jalur terjal gunung salak 2 pun terlihat dengan jelas. Mental dan semangatpun saat itu pasti langsung turun. Berjalan selama 3 jam dari pos 1 kamipun sampai di pos 6. Di sinilah kita semua akan beristirahat sebelum melanjutkan pendakian pagi harinya. Pos ini merupakan tempat yang sangat cocok untuk mendirikan camp. Tempatnya agak sedikit luas dari pos-pos lainnya. Dapat menampung sekitar 3 tenda dome yang berkapasitas 4-5 orang.
Hari ke-2, Puncak Salak 2, Sadel, Puncak Salak 1
Tidur yang sangat lelap. Suara nyanyian burung dan hangatnya sinar matahari membangunkan kami semua di pagi itu. Hutan tropis yang basah membuat embun pagi melekat di atas cover dome yang kami dirikan. Lumut-lumut hijau yang menempel di pepohonanpun dapat mengeluarkan air jika diperas. Sungguh suasana ketenangan yang luar biasa kala itu.
Tepat pada pukul 09.00 kamipun melanjutkan perjalanan. Usai sarapan pagi yang sangat nikmat, seakan menambah tenaga kami semua untuk menginjakan kaki di puncak gunung salak 2. Banyak cerukan air terdapat disini. Terkadang kami berhenti untuk memenuhi botol air yang kami bawa. Walaupun agak kotor namun tetap berguna untuk kebutuhan air kami.
Perjalanan semakin terjal, vegetasi hutanpun mulai berubah menjadi pepohonan kecil dan bengkok. Ilalang dan cantigipun menghiasi vegetasi disini. Pertanda sebentar lagi kami akan menginjakan kaki di puncak pertama. Saat itu bendera merah putih terlihat berkibar di puncak punggungan. Tempat tersebut biasa dikenal sebagai puncak bayangan oleh para pendaki. Tidak jauh dari puncak bayangan kami akan mencapai puncak gunung Salak 2. Sekitar 10 menit jalan mendatar dari puncak bayangan.
Sampai di puncak salak 2 kami beristirahat sejenak. Tidak memakan banyak waktu, hanya mengabadikan dokumentasi kami di puncak salak 2. Puncaknya cukup luas, dapat menampung sekitar 4 dome. Kali ini puncak salak 2 tidak seperti biasanya. Semak-semak yang mengelilingi puncak terlihat agak bersih, sepertinya ada pendaki yang baik hati membersihkan tempat tersebut dari lebatnya semak tumbuhan bawah.
Jalan turun menuju sadelpun kami cari. Berbekal peta kontur dan kompas yang kami bawa. 140 derajat Bukit pertama di sadelpun menjadi tujuan kami. Dari bukit tersebut arah perjalanan akan berubah menjadi 150 derajat. Waypoint bekas rintisan highcamp pun sangat membantu kami untuk menemui jalan menuju sadel.
Sudah seperti yang diperkirakan. Jalan turun yang sangat curam langsung menyambut kami dalam perjalanan menuju salak 1. Tidak ada pijakan dan tumpuan tangan yang kuat. Yang ada hanya batuan yang rawan lepas dan semak yang tertanam di tanah gembur. Sesekali terdapat pohon yang dapat membantu kami untuk turun, namun itu sangat jarang. Untuk menuruni jalan ini sebenarnya membutuhkan webbing, karena kami hanya bertiga webbing pun tidak kami pasang. Walaupun sesekali terjatuh, yang penting kami semua cepat sampai.
Sekitar 20 menit kami menuruni turunan yang sangat curam. Kamipun tiba disadel yang menghubungkan salak 2 dan bukit 1900. Dari tempat ini terlihat jelas jurang ciapus disebelah kiri yang mengangah. Sedangkan tepat disebelah kanan terdapat longsoran bebatuan yang terlihat seperti puing – puing bangunan yang roboh. Kumpulan Bunga abadi edelweispun terlihat dari kejauhan. Namun sangat sulit untuk menuju kesana. Kamipun berjalan sesuai arah kompas yang kami tentukan. Jalannya datar, sesekali menanjak dan menurun. Banyak marker yang ditinggalkan, terlihat masih baru, mungkin marker yang di tinggalkan tim yang merintis jalur tersebut. Hutan yang kami lalui sangat bersih, tidak ada sampah yang tetinggal, yang ada hanya tumpukan serasah yang jatuh dari pepohonan. Rimbunnya pepohonan disini membuat semak belukarpun jarang ditemui.
Langkah kaki kami bertiga dipercepat. Mengejar agar tidak bertabrakan dengan gelapnya malam hari di sadel. Kami melakukan itu karena belum ada satupun dari kami ketempat tersebut. Jarak tempuhpun kami tidak tahu. Hanya bisa membayangkan jarak dan medan melalui peta yang kami bawa. 2 jam berjalan kamipun tiba di bukit 1900. Tempatnya cukup luas, cukup untuk mendirikan 3 dome. Namun sepertinya bermalam di sini sangat mengerikan. Angin lembah yang bertiup dari kanan dan kiri mungkin terasa sangat dingin jika malam hari. Karena ingin cepat sampai di salak 1 Kamipun hanya melewati tempat tersebut dan melanjutkan perjalanan kearah sudut kompas yang berbeda. Tujuannya kali ini puncak salak 1 dengan melewati beberapa bukit kecil di tengahnya.
Bukit – bukit yang kami lewati memang kecil dan tidak tinggi. Namun sangat terjal. Bebatuanpun berjatuhan dari atas. Saya yang berada dibelakangpun berteriak agar berhati-hati dalam melangkah dan memilih pijakan. Kami semua tidak bisa membayangkan jika terjadi hujan disini, pasti sangat licin dan berbahaya. Dari sini terlihat sangat jelas sadel yang menghubungkan puncak salak 2 dan sumbul, terlihat sangat tipis dan curam.
Satu jam setengah kami berjalan menanjak dan menurun. Sekitar 3 bukit kecil telah kami lewati. Ditempat ini ada persimpangan yang membingungkan, kekiri mengikuti sadel atau kekanan mengikuti jalan rintisan yang terlihat baru dibuka. Terpaksa kami bertiga dipecah menjadi dua. Riza mengikuti sadel yang terus ke atas, saya dan bucilpun mengukuti jalan rintisan kearah kanan. Berharap ini hanya jalan melambung yang akan menyatu kembali didepan. Namun sepertinya tidak demikian, jalan yang saya dan bucil telusuri sedikit demi sedikit menurun kearah kanan. Sambil berjalan saya dan Rizapun saling memantau dengan teriakan. Semakin lama teriakan itu terdengar semakin jauh, jelas ini jalan yang berbeda. Sepertinya jalan yang saya lewati menuju punggungan yang terdapat di kanan sadel. Rizapun akhirnya turun kembali dan mengikuti jalan yang kami berdua lewati.
Sekitar 15 menit kami berdua beristirahat sambil menunggu Riza. Cukup jauh juga rupanya jarak kami dengan dia. Beruntung teriakan kami berdua masih saling terdengar. Sudah 4 jam kami berjalan menyebrangi sadel. Awan hitam mulai berdatangan, sepetinya sebentar lagi akan turun hujan. Rintisan jalan yang baru dibuka tersebut masih samar – samar, didepan kami terdapat turunan terjal kearah kanan, sedangkan puncak salah 1 ada disebelah kiri. Ini semua membuat kami ragu, sayapun turun terlebih dahulu untuk memastikan jalan tersebut. Tidak lama setelah jalan menurun longsoran besar disebelah kiri terlihat menutupi jalan yang ada. Longsoran tersebut sepertinnya bekas air bah yang mengalir sampai ke kawah ratu dan curug Seribu. Tempat ini merupakan hulu dari kedua sungai tersebut. Cuaca semakin buruk, jika hujan datang kemungkinan tempat ini akan menjadi aliran air, dan bebatuannyapun rawan longsor. Jika ini menjadi sungai kamipun tepat berjalan di atas air terjun yang sangat tinggi.
Perut kami bertiga sudah meraung -raung. Rencananya kami akan makan tepat setelah turunan ini. Namun kamipun memaksakan untuk kembali berjalan setelah melihat longsoran tersebut. Sangat berbahaya jika kita berlama-lama ditempat ini. Terlebih cuaca semakin memburuk. Sayapun berjalan didepan untuk mencari tempat istirahat yang nyaman. Namun sepertinya kami belum bisa istirahat, anak-anak sungai yang kering menjadi jalur pendakian yang kami lewati. Disinipun tidak kalah bahayanya jika terjadi hujan. Terpaksa rencana untuk menggganjal perutpun kami tunda.
Usai berjalan setengah jam dari lokasi longsoran kamipun menemukan tempat yang nyaman untuk mengisi perut. “Akhirnya makan juga”, cetus kami semua. Sambil menungu masakan masak kamipun berbincang – bincang mengenai jalur tadi. Sepertinya disini tempat para mahasiswa dari jogja kehilangan jalan. Longsoran besar yang memutuskan sadel antara bukit 1900 dengan puncak gunung salak 1. saya dan Riza berdiskusi sambil mengenang ketika kami bergabung dalam operasi SAR satu tahun lalu di tempat yang sama. Kala itu 6 orang mahasiswa dari Jogjakarta berusaha menyebrangi sadel Salak 2 – salak 1. Namun longsoran besar di sadel menggagalkan misi mereka. Jalan rintisan kearah kanan yang kami lewati terlihat masih sangat baru. Mungkin keenam mahasiswa tersebut mengambil jalan yang Riza ambil saat kami terpisah menjadi dua tim.
Usai sarapan kamipun melanjutkan perjalanan. Puncak salak 1 terasa semakin dekat, sepertinya sebentar lagi kita sampai. Kali ini jalan yang kami lalui berupa ilalang dan tumbuha bawah. Tanjakannya sangat terjal, tanganpun hanya bisa berpegangan dengan ilalang yang ada. Tumbuhan bawah tersebut sangat membantu kami untuk menaiki tanjakan curam ini. Sekitar setengah jam berjalan dari tempat istirahat, kamipun tiba di puncak salak 1, Tepatnya pukul 16.30. melihat wajah kedua teman saya yang terlihat sedikit bingung dengan keberhasilan ini. Seakan mereka tak pecaya, maklum rencana menyebrangi sadel salak 1 -2 memang sudah lama kami inginkan.
Teriakan rasa kepuasanpun kami lontarkan dari puncak salak 1, berharap semua kawan-kawan kami dapat merasakan kebahagiaan yang saat ini dirasakan. Prediksinya tepat sekali, sesampainya kami di salak 1 hujanpun datang, sangat beruntung tidak terkena hujan saat perjalanan. Seperti yang telah diketahui para pendaki puncak salak 1 terbilang luas dari puncak-puncak lainnya. Disini terdapat saung yang biasa digunakan oleh peziarah. Kamipun menggunakan saung tersebut untuk bermalam. Badan terasa sangat lelah, usai berbenah dan mendirikan dome didalam saung kamipun tertidur pulas sejenak. Melepas kelelahan usah berjalan ngebut menyebrangi sadel. Makan malampun kami lakukan dimalam hari sekitar jam 8 malam setelah kami bangun.
Hari ke -3 , Puncak Salak 1 – salak 3- salak 4 – Desa Tapos
Tidak seperti malam kemarin. Kali ini malam di puncak salak 1 ditemani oleh kabut yang menutupi gemerlap lampu kota Bogor. Tidak ada satu bintangpun yang terlihat. Mungkin ini memang waktunya untuk tidur dan istirahat. Perjalanan esok pagi tidak kalah menantang, yaitu jalur purba pendakian gunung salak 1, dimana kami semua harus menelusuri punggungan ciapus. Jurang dalam dengan kemiringan 90 derajatpun akan selalu mendampingi sisi kiri kami dalam perjalanan. Pagi itu terasa sangat dingin. Mungkin karena saya tidak mengenakan sleeping bag saat tidur. Kabutpun terlihat masih menutupi gunung salak 1. Bahkan terlihat dari kejauhan awan hitam di belakang kami, awan hitam tersebut berjalan perlahan dari gunung pangrango kearah gunung salak.
Kamipun siap melanjutkan perjalanan pulang. Kali ini bukan turun gunung yang akan kami lakukan, jalan menurun dan menanjak kembali menanti di depan. Ada sekitar 6 bukit yang akan kami lewati. kamipun mencoba untuk menelusuri puncakan –puncakan gunung salak sampai bukit terakhir yaitu bukit 1600 mdpl. Dari bukit itulah kami akan menemui jalan menurun terus sampai ke desa Tapos. Target pertama yaitu puncak salak 3, arahnya sekitar 260 derajat dari puncak salak 1. Untuk menuju salak 3 kami harus melewati satu bukit yang berada di tengahnya.
Sekitar 5 meter dari puncak salak 1, semak dan tumbuhan bawahpun langsung menyapa kami. Ditambah tumbuhan arbey hutan yang berduri membuat lengan kami tergores-gores merah. Jalan turun yang terjalpun seakan menjadi pintu kedua jalan tersebut. Walaupun berat kami tetap menikmati jalur ini. Hutan yang lembab, lumut-lumut yang menempel di pohon, suara kicauan burung, dan gemuruh aliran air sungai ciapus di bawah kami membuat hutan perawan gunung salak tetap indah untuk dijelajahi.
Setelah 1 jam berjalan kamipun tiba di puncak salak 3. Puncaknya agak kecil, hanya dapat menampung 1 dome ukuran 4-5 orang. Dari puncak ini terlihat jelas sadel yang menghubungkan salak 2 dan salak 1, itulah jalan yang kita lewati kemarin. Perjalananpun kami lanjutkan, target selanjutnya adalah puncak salak 4. Arah perjalanan pun berubah menjadi 230 derat dari arah salak 3. Kondisi Jalur yang kami lewati relatif sama. Disini kami harus melompati patahan tebing sekitar setengah meter, dalamnya sekitar 7 meter. Memang tidak terlalu mengerikan. Namun didepannya ada jurang ciapus yang entah berapa kedalamannya. Jika tidak berhati – hati kamipun dapat terpelanting kesana.
Jalan menurun dan kembali menanjak, seakan tidak ada habisnya dan tidak seperti halnya turun gunung. Jalur pendakian yang membutuhkan waktu 12 jam normal perjalanan kami coba menekannya menjadi 8 jam. Makan siangpun sudah kami siapkan ketika di puncak salak 1, sehingga tidak memakan banyak waktu untuk beristirahat. Sekitar pukul 11 siang kamipun tiba di puncak salak 4. Daerah ini merupakan lokasi peninggalan belanda yang konon merupakan tempat mengontrol pesawat. Terlihat masih banyak puing-puing bangunan yang tersisa, tiang-tiang listrikpun masih berdiri kokoh di tempat ini. Dari tempat ini terlihat jelas jalur turun menuju kandang sapi. Namun tujuan kami bukanlah kesana, melainkan bukit terakhir gunung salak.
Tidak membuang banyak waktu perjalanpun kami lanjutkan. Untuk menuju bukit 1600 kami harus mendaki dan menuruni satu bukit yang ada diantara salak 4 dan 1600. Di tempat ini banyak percabangan, jika salah mengambil jalan membuat kita turun di desa yang berbeda. Patokan kami saat itu adalah jurang ciapus yang selalu mendampingi disisi kiri kami. Semak belukar dengan duri – duri tajampun menjadi rintangan yang sangat berat. Tingginya setara dengan dada kami, bahkan ada yang sampai menutupi tinggi badan kami semua. Rasanya seperti berenang di atas rumput berduri, lengan dan wajahpun penuh dengan baretan duri rotan yang durinya seperti kail pancing. Perjalanan yang melelahkan. Membuat sekujur badan terasa perih. Kamipun tiba di bukit 1600. Dibukit ini terdapat sebuah tugu, tulisan ditugu tersebut telah hilang. Lokasinya cukup luas, banyak tempat yang sangat cocok untuk mendirikan camp. Sekitar 6-7 tendapun dapat didirikan disini.
Disini kami hanya beristirahat sebentar sambil menikmati kopi dan memakan sisa logistik yang kami bawa. Dari sini perjalanan akan menurun terus sampai desa tapos. Jalan untuk turun kebawahpun tidak jelas, yang saya ingat hanya tanda bacokan 3 di pepohonan. Bacokan tersebut tanda waktu kami mendaki puncak salak 1 dari desa tapos sekitar 6 bulan yang lalu. Meskipun agak sedikit samar namun tanda dipohon tersebut masih terlihat. Kamipun turun kebawah sambil mengikuti pohon demi pohon yang bertanda.
Tepat seperti dugaan sebelumnya. Bacokan 3 dipohonpun hilang. Namun bukan bekas bacokan yang hilang tertutup kulit pohon. Sekitar 200 m jalan menurun dari bukit 1600, semua pohonnya telah hilang, gundul dan tak bersisa. Hanya tersisa lubang-lubang besar yang digunakan untuk membuat arang. Sepertinya telah terjadi pencurian kayu disini. Kayu dari hutan tersebut digunakan untk membuat arang. Terlihat tumpukan karung berisi arang yang siap diangkut, namun sepertinya sudah lama ditinggalkan oleh pemiliknya. Memang berdasarkan informasi disini telah terjadi pencurian kayu. Lokasinya cukup luas, sekitar 5 ha.
Jalan menuju desa tapospun tidak kami temui, yang ada hanya jalan setapak yang cukup jelas disebelah kanan. Jalan tersebut terus turun mengikuti pungggungan. Sementara jika kami ingin menuju desa tapos kami harus berpindah satu punggungan kearah kiri. Terpaksa jalan itupun kami ikuti, Tidak ada lagi jalan yang lain. Saat itu yang ada dibenak kami semua adalah turun kebawah, dan menuju desa tapos dengan berjalan kearah kiri usai bertemu dengan perkebunan. Hutannya sudah gundul dan gersang, lubang-lubang besar yang ditinggalpun menjadi genangan air berwarna coklat kehitaman.
Sudah 3 hari kami tidak bertemu dengan siapapun, bahkan pendaki lainnpun tidak ada. Saat berjalan turun tiba-tiba terdapat sebuah bivak kecil yang terbuat dari dedaunan pakis. Bivak tersebut tepat berada di tengan jalan setapak. Seorang pemburu burung pun kelaur, disekelilingnya terlihat burung – burung hasil buruannya, diletakan didalam sangkar dan ditutupi dengan kain. Raut mukanya seakan kaget melihat kami yang sedang turun tergesa-gesa. Diapun bertanya “mau kemana dan dari mana kang ?” dari puncak salak 1, mau ke desa tapos. Kamipun balik bertanya padanya. Dengan baik hati sang pemburu itupun menunjukan dan mengarahkan jalan untuk menuju desa tapos.
Hutan jinjingpun kami lewati. Kebun-kebun nanas terhampar luas, dari sini kemegahan kota bogor terlihat sangat kecil. Gedung rektorat kampus IPB Dramagapun terlihat. Menengok kebelakang terlihat kabut tebal yang menutupi gunung salak, beruntung kami semua sudah turun. Desa tapos sudah terlihat dari kejauhan, mungkin sekitar 1 jam lagi kami sampai disana. Saat itu jam menunjukan pukul 15.00, perut kami semua sudah sangat lapar. Terlihat saung milik petani yang sepertinya sangat nyaman untuk tempat istirahat.
Kamipun istirahat di Saung tersebut dan mengisi perut yang sudah keroncongan. Dari saung ini kami memandang vila-vila megah di kaki gunung salak yang terlihat sangat kecil. Walaupun hanya saung kecil namun kenyamanannya mengalahkan vila yang terlihat kecil di bawah kami. Satu jam lagi sampai didesa tapos. Perjalanan turunpun kami lanjutkan. Melewati kebun nanas, menyebrangi sungai, masuk kembali ke hutan, dan kembali lagi ke kebun nanas.
Sesuai dengan perkiraan satu jam berjalan kamipun tiba didesa tapos. Dari desa ini perjalanan turun untuk menuju angkutan umum sekitar setengan jam. Rasa puas dan banggapun seakan menghapus perihnya goresan duri-duri di badan kami. Sesekali saya menengokan wajah kebelakang. Melihat puncakan-puncakan gunung salak yang saat itu sangat jelas. Membayangkan seakan tidak percaya bahwa kami semua telah menginjakan kaki dan mengulang kembali sejarah LAWALATA IPB disetiap puncakan-puncakan tersebut. Dengan rasa bangga sayapun memberi kabar sebagai bentuk koordinasi bahwa kami semua telah sampai di desa tapos dengan selamat.
Mufti Ode / L290

Mantap jaya! Selamat ya Ode, Bolong, Bucil! Salute! Baca ceritanya aja jadi ikutan deg-degan hehehe..
Salut buat L. Lawalata Jaya.
Jadi ingat tahun 1990an ketika saya naik terakhir ke puncak Salak-2.
Apakah habitat rafflesia nya masih ada? kalau ga salah di ketinggian 1000-1500 m dpl.
Kapan-kapan jadi ingin jalan lagi ke Salak. Maju terus Lawalata.
Ridzki/L186
habitatnya masih ada Bang.. kemarin Lawalata sempat ngadain penelitian tentang raflesia di gunung salak.. ada 3 lokasi yang di survey, (Loji, Tapos, dan Sukamantri) tapi cuma tetrastigma (inangnya) aja yang ketemu.. raflesianya gak ada. mungkin karna pengaruh cuaca.
dekat2 ini ada pembukaan MPCA, biasanya di kawah ratu.. hayo ikut Bang!!
Salam
Mufti Ode / L290
Selamat dan sukses … mbaca ceritanya jadi kepingin naik gunung lagi … tapi jauh di mata dekat di hati lah situasinya … mudah2an sebelum menginjak usia 50 th masih bisa mendaki satu gunung lagi untuk kenang2an … (cita2 nih ..). Maklum body sudah semakin tua dan semakin menebal/melebar he..he..
keren..
baca ceritanya jadi ikut deg2an..
mantab bgt ni kawan…
. pgn banget kesana ..
bisa di share secara rinci histori resectionnya
ane bisa dapetin peta salak di jkt beli dmn ya??. thx